ARCHAEOLOGY #005
π₯ THE MAD KING & THE FALL OF HOUSE TARGARYEN
Tiga ratus tahun kekuasaan Targaryen berakhir bukan lewat pertempuran dragon melawan dragon, tetapi lewat kegilaan satu orang di dalam Red Keep β dan lewat pengkhianatan satu ksatria yang bersumpah melindunginya.
π 1. Raja yang dulunya dipuja
Aerys II Targaryen naik takhta pada 262 AC, dan awal pemerintahannya justru dianggap membawa harapan besar bagi Seven Kingdoms β masa itu ditandai kedamaian dan kemakmuran, jauh dari citra "Mad King" yang kita kenal di akhir hidupnya. Perubahannya tidak terjadi sekaligus, melainkan bertahap: serangkaian keguguran dan bayi lahir mati yang dialami istrinya, Ratu Rhaella, kematian tiga anaknya, dan sebuah peristiwa penting bernama Defiance of Duskendale β di mana Aerys ditahan selama setengah tahun oleh seorang lord pemberontak β mempercepat keruntuhan mentalnya.
π₯ 2. Trauma Duskendale dan kelahiran paranoia
Setelah dibebaskan dari penahanan di Duskendale, Aerys tidak pernah kembali menjadi raja yang sama. Ia menjadi semakin paranoid terhadap pengkhianatan β kecurigaan yang, menurut sudut pandang Jaime Lannister bertahun-tahun kemudian, sengaja "dipupuk" oleh pengaruh Varys di istana. Aerys mulai menghukum musuh (dan siapa pun yang dicurigainya) dengan cara membakar mereka hidup-hidup, alih-alih hukuman gantung atau pemenggalan yang lazim.
π©Έ 3. Eksekusi Rickard dan Brandon Stark
Titik nyala yang langsung memicu Robert's Rebellion terjadi ketika Aerys mengeksekusi Lord Rickard Stark dan putra sulungnya Brandon Stark. Rickard digantung di atas api dalam baju zirah lengkap dan dimasak hidup-hidup di dalamnya, sementara Brandon dipaksa menyaksikan sambil dipasangi alat pencekik yang mengencang setiap kali ia bergerak β sebuah pedang sengaja diletakkan tak terjangkau di depannya, seolah memberi harapan palsu bahwa ia bisa menyelamatkan ayahnya. Brandon mati mencekik dirinya sendiri berusaha meraih pedang itu.
Aerys kemudian juga menuntut kepala Eddard Stark dan Robert Baratheon dikirimkan kepadanya β dua nama yang justru menjadi pemimpin pemberontakan yang menjatuhkannya.
π 4. Rencana wildfire
Ketika perang mulai berbalik melawan pihak Targaryen, ketakutan Aerys berubah menjadi rencana yang jauh lebih mengerikan. Ia diam-diam memerintahkan Alchemists' Guild menempatkan ribuan tong wildfire β cairan mudah terbakar yang panasnya bisa melelehkan batu dan baja β di titik-titik strategis di seluruh King's Landing: di bawah Great Sept of Baelor, di bawah permukiman kumuh Flea Bottom, di bawah rumah-rumah, kandang kuda, kedai, bahkan di bawah Red Keep itu sendiri.
Rencananya: jika kota jatuh ke tangan pemberontak, ia akan membakar seluruh King's Landing β bersama setengah juta penduduknya β daripada membiarkannya direbut. Jaime Lannister, saat itu anggota termuda Kingsguard, hadir ketika rencana ini disusun, karena Aerys sengaja ingin mengawasinya sekaligus mengawasi ayahnya, Tywin, yang ia curigai.
βοΈ 5. Sack of King's Landing
Setelah kekalahan pasukan Targaryen di Battle of the Trident, Tywin Lannister β yang selama ini tetap netral β tiba-tiba muncul di gerbang King's Landing membawa seluruh pasukan Lannister, menjanjikan akan membela kota. Jaime memperingatkan Aerys bahwa ayahnya bukan tipe orang yang memilih pihak yang kalah, dan ini pasti tipuan. Varys memberikan peringatan yang sama. Tetapi Aerys justru mendengarkan Grand Maester Pycelle, yang meyakinkannya bahwa Lannister datang untuk membantu.
Aerys membuka gerbang kota. Pasukan Lannister langsung berbalik dan menjarah kota dalam apa yang dikenal sebagai Sack of King's Landing.
π‘οΈ 6. Kematian sang raja dan lahirnya "Kingslayer"
Menyadari kota akan jatuh, Aerys memerintahkan Jaime membawakan kepala ayahnya sendiri, lalu memberi perintah terakhir kepada Lord Rossart, kepala pyromancer yang saat itu ia jadikan Hand of the King: nyalakan wildfire, bakar seluruh kota.
Jaime tidak menaatinya. Ia membunuh Rossart di sebuah gerbang samping sebelum sempat menyalakan apa pun, lalu kembali ke ruang takhta dan menyembelih tenggorokan Aerys II Targaryen dari belakang. Tindakan ini menyelamatkan seluruh populasi King's Landing dari kehancuran total β tetapi karena dilakukan dengan mengkhianati sumpah Kingsguard untuk melindungi raja, Jaime kemudian dijuluki "the Kingslayer" dan menanggung reputasi buruk itu selama bertahun-tahun, meski sebagian besar Westeros tidak pernah tahu alasan sebenarnya di balik tindakannya.
πͺ 7. Takhta yang kosong sesaat
Setelah membunuh Aerys, Jaime duduk sejenak di Iron Throne sambil menunggu siapa yang akan datang mengklaimnya β sebuah momen yang kemudian ia sebut sebagai godaan sesaat, sebelum Eddard Stark tiba memimpin pasukannya dan Jaime menyerahkan ruang takhta itu kepadanya.
π Status Lore
οΏ½ Canon: naiknya takhta Aerys II tahun 262 AC dan awal pemerintahan yang dianggap baik; Defiance of Duskendale sebagai titik balik kegilaannya; eksekusi brutal Rickard dan Brandon Stark; permintaan kepala Eddard dan Robert; rencana wildfire dan penempatan ribuan tong di seluruh King's Landing; kehadiran Jaime saat rencana disusun; Tywin Lannister berpura-pura membela kota lalu menjarahnya (Sack of King's Landing); pembunuhan Rossart dan Aerys oleh Jaime; julukan "Kingslayer".
οΏ½ Reconstruction: Varys secara sengaja "memupuk" paranoia Aerys β ini disampaikan sebagai persepsi/interpretasi Jaime, bukan fakta yang dikonfirmasi narator independen.
Tidak diketahui: persentase pasti kontribusi masing-masing faktor (keguguran, Duskendale, tekanan kekuasaan) terhadap kegilaan Aerys β canon menyebutkan semuanya sebagai faktor tanpa memberi bobot pasti.
π§ Connection Map
Aegon's Conquest (#003) β tiga abad kekuasaan Targaryen dimulai dari sini
The Mad King & Fall of House Targaryen (#005) β kekuasaan itu berakhir lewat kegilaan dari dalam, bukan penaklukan dari luar
Robert's Rebellion (#006, di file ini) β konteks perang yang membuat kegilaan Aerys menjadi fatal
π§ The Central Idea
Yang membuat kejatuhan Aerys begitu tragis bukan sekadar kegilaannya, melainkan siapa yang akhirnya menghentikannya: bukan musuh dari luar, bukan pemberontak yang menyerbu Red Keep, melainkan salah satu ksatrianya sendiri, yang bersumpah melindunginya sampai mati. Jaime Lannister menyelamatkan setengah juta nyawa dengan cara mengkhianati satu sumpah paling suci dalam hidupnya β dan reputasinya membusuk selama bertahun-tahun justru karena kebenaran itu terlalu berbahaya untuk diceritakannya kepada siapa pun.
π Primary Sources
George R.R. Martin β A Storm of Swords (pengakuan Jaime kepada Brienne di Harrenhal)
George R.R. Martin, Elio M. GarcΓa Jr. & Linda Antonsson β The World of Ice & Fire
George R.R. Martin β A Song of Ice and Fire (referensi silang)